Warga Terlantar, Akademis Sosiolog Sebut Akibat Perubahan Struktur Sosial

Riaumandiri.co - Permasalahan sosial kembali menjadi topik hangat di Kota Pekanbaru, belum tuntas nya masalah Nenek Zaimah yang ditinggalkan keluarganya.
Saat ini ditemukan lagi seorang nenek bernama Rosmiati ditemukan dalam kondisi badan penuh belatung.
Kondisi Rosmiati yang memprihatinkan itu pertama kali diterima oleh anggota DPRD Pekanbaru dapil Rumbai, Zulkardi. Laporan diterima dari RT/RW di Kelurahan Meranti Pandak, Rumbai.
"Awalnya dapat laporan soal Ibu Rosmiati, usia 60-an tahun yang telah lama terlantar. Jadi ini viral setelah bu Zaimah kemarin, muncullah laporan dari RT/RW soal kondisi Bu Rosmiati," kata Zulkardi, Sabtu (15/2).
Menanggapi hal ini, Akademisi Sosiologi FISIP UNRI, Muhammad Ihsan, S.Pd., M.Si mengatakan adanya suatu perubahan struktural sosial pada masyarakat yang membuat kasus penelantaran ini marak terjadi di perkotaan.
Secara Sosiologi, lingkungan keluarga merupakan suatu institusi utama, diantaranya adanya tukar peran, yakninya orang tua punya tanggung jawab terhadap anak, dan anak pun sebaliknya memiliki tanggungjawab merawat orang tua.
Tanggung jawab orang tua kepada anak yaitu membesarkan, mengajarkan, dan mengarahkan sang anak, sedangkan tanggung jawab seorang anak yaitu berbakti dan merawat orang tua ketika telah dewasa.
"Kadang orang tua sudah 'jor-joran' untuk melakukan terbaik buat anaknya, kadang tak punya sumber daya mereka," kata Ihsan.
Lebih lanjut, Ia mengamati adanya sifat individualisme yang tinggi di perkotaan, sehingga kewajiban anak kepada orang tua sering terabaikan.
Diketahui, sebuah perkotaan, khususnya Pekanbaru tingkat kesibukannya sangat tinggi, riskan jarangnya ada waktu dan perhatian kepada keluarga.
Apalagi, anak tunggal yang sedang berjuang di perantauan, menurut Ihsan apabila anak ada di perantauan, disitulah peran keluarga besar.
Maka, seorang anak harus memiliki dan menguatkan hubungan silaturahmi dengan keluarga besar. "Memang kita ini makhluk sosial, mau tidak mau harus ada peran orang lain, termasuk keluarga besar. Misalnya sepupu, paman, perlu support system, disitulah kita perlu mempererat hubungan yang baik," katanya.
"Misalnya walaupun jauh merantau dari Sumbar ke Riau, itu tidak bisa dilepaskan hubungan kita sosial ke keluarga harus dijaga, maka perlu memanfaatkan itu hubungan yang baik," ujarnya.
Tak hanya sekedar hubungan baik, perencanaan kesehatan dan keuangan juga sangat diperlukan, hal ini demi menjaga kesehatan dan mental orang tua ke depannya.
"Kemudian kita juga harus membuat perencanaan, kayak keuangan di masa depan, apalagi misalnya ada anak tunggal, kita harus kalau perlu adakan medical checkup (MCU) orang tua setiap enam bulan," ujar Ihsan.
Kalau perlu menurut Ihsan, pekerjaan anak harus fleksibel, dan tidak terikat. "Kalau bisa pekerjaan kita fleksibel seperti di swasta, tidak terikat seperti ASN kan, jadi mudah untuk menjenguk orang tua atau berkunjung kepada orang tua," katanya.
Orang tua menurutnya hanya perlu tempat cerita, dan memerlukan teman obrolan di masa tuanya.
Makanya perlunya kehadiran anak penting bagi orang tua untuk menjaga kesehatan fisik dan mentalnya.
Ditanya mengenai orang tua dibawa ke perantauan, Ihsan berpendapat hal yang bagus, namun, perlu didiskusikan dengan istri di rumah.
"Itu solusi tergantung pada kita, kalau orang tua dekat dengan kita memberi leluasa untuk merawat mereka, memberi solusi, harus tinggal dengan istri, perlu difikir matang matang, ini menjadi solusi agar orang tua tidak kesepian," ujarnya.
Perpindahan orang tua dari desa kota memerlukan adaptasi, hal ini karena adanya perbedaan budaya yang sangat kontras terlihat.
Kalau di desa, kebiasaan orang tua yakninya mengurus ladang, atau kebun, namun di perkotaan tentu tidak bisa berkebun.
Di sisi lain, ada hal positif apabila orang tua berada di perkotaan, akses kesehatan menjadi sangat mudah, faktanya di Pekanbaru saja rumah sakit sudah tersebar di setiap kecamatan.
"Kalau di Kota pasti berbeda dengan desa, kalah desa atau kampung biasanya mengurusi kebun, kadang, di kota tau sendiri, anak kadang pergi pagi pulang sore, ketemunya hanya malam. Perlu adaptasi dan menyesuaikan diri lagi, kalau di kota positifnya itu serba instan, mudah dan fasilitas kesehatan nya gampang diakses," ujar Ihsan.
Terakhir, Ihsan yang juga dosen FISIP UNRI menyarankan kepada pemerintah agar selalu memberikan pelayanan kesejahteraan sosial kepada lansia, hal ini bentuk tanggungjawab negara kepada rakyatnya.
Berita Lainnya
- Pemko Pekanbaru Terbitkan Pedoman Ramadan 1446 H: Pastikan THM Tutup
- Tempo Waktu Tiga Jam, Polsek Payung Sekaki Ringkus Pejambret
- Penerimaan Murid Baru Pertengahan 2025, Disdik Pekanbaru Tambah Kuota Jalur Affirmasi
- Rumah Yatim Riau Salurkan Bantuan Program Ramadan di Pekanbaru
- Wako Agung Perintahkan Dishub Perbaiki Halte Trans Metro
- Agung Nugroho-Markarius Anwar Salat Ied di Panam Square: Rayakan Hari Kemenangan