Elpiji Langka, Warga Kuansing Beralih ke Minyak Tanah dan Kayu Bakar

Cetak Selasa,05 Desember 2017 | 16:56:51 WIB
Elpiji Langka, Warga Kuansing Beralih ke Minyak Tanah dan Kayu Bakar
Ket Foto : Tabung elpiji 3 kg kosong di tingkat pengecer.
RIAUMANDIRI.CO, TELUK KUANTAN - Penderitaan masyarakat tak kunjung habis. Di tengah kesulitan ekonomi, mereka juga sulit untuk mendapatkan elpiji tabung tiga kilogram. Seperti yang terjadi di Kabupaten Kuansing, Riau. Hampir sepekan elpiji tersebut sulit ditemukan. Tak ayal, minyak tanah dan kayu bakar kembali menjadi bahan bahan bakar utama bagi ibu rumah tangga untuk memasak kebutuhan sehari-hari.
 
Seperti diutarakan salah seorang ibu rumah tangga, Yenti, ketika ditemui oleh Riaumandiri.co, Selasa (5/12/2017), saat mencari elpiji di Pasar Baserah, Kecamatan Kuantan 
Hilir. Ia mengaku sudah sepekan tabung kecil warna hijau itu tidak terpasang di kompor gas miliknya. Bahkan ia sudah mencari ke berbagai pengecer elpiji, tapi selalu kosong.
 
"Mau tidak mau saya harus beralih lagi ke minyak tanah dan kayu api untuk menanak nasi serta memasak lauk-pauk," ujar Yenti.
 
Dikatakannya, ia tak hanya mencari di Pasar Baserah, melainkan juga mencari ke Pasar Pegian dengan jarak tempuh 20 kilometer dari Baserah dengan menggunakan sepeda motor. Namun tetap saja upaya yang ia lakukan tidak membuahkan hasil.
 
"Saat saya tanyakan ke agen elpiji yang berada di Pasar Pegian, mereka menjawab kalau gas elpiji tersebut sudah satu minggu ini tidak masuk," ucapnya.
 
Hal serupa dialami Hendra (42), warga Kecamatan Benai, yang sudah beberapa hari ini mencari elpiji tiga kilogram. Bahkan Hendra sudah mencarinya hingga ke Kota Teluk Kuantan. Namun lagi-lagi usahanya itu gagal.
 
"Sudah dari hari, sejak Sabtu kemarin saya mencarinya, sampai sekarang belum ketemu," katannya.
 
Kosongnya elpiji isi tabung tiga kilogram terpaksa membuat Hendra beralih ke kompor minyak tanah. Tentu saja minyak tanah tidak murah di sini, di mana satu liternya bisa dipatok dengan harga hingga Rp10 ribu per liter. Pemakaiannya pun hanya beberapa hari saja.
 
Jika ia tidak sanggup membeli minyak tanah, terpaksa mencari kayu di kebun-kebun tetangga untuk memasak.
 
"Minyak tanah cepat habisnya, beda dengan elpiji yang kadang bisa tahan sampai 2 minggu," pungkasnya.
 
Hal ini pun dibenarkan oleh salah satu pengecer elpiji di Kota Teluk Kuantan, yang mengatakan, sudah beberapa hari agen tidak mengirimkan elpiji. Permintaan yang sudah dilakukan sejak pekan lalu tidak pernah terpenuhi hingga sekarang.
 
"Sudah lama kosongnya bang, tinggal tumpukan tabung yang tak ada isinya saja lagi. Nunggu dijemput oleh agen," katannya.
 
"Saya sangat berharap kepada pemerintah daerah untuk mencarikan solusi, terkait kelangkaan elpiji 3 kilogram ini. Diharapkan Pemerintah Kabupaten Kuansing melalui dinas terkait untuk turun ke lapangan," harapnya. ***
 
 
Reporter : Suandri
Editor       : Mohd Moralis
Akses Riaumandiri.co Via Mobile m.riaumandiri.co
BERITA TERKAIT
Loading...
TULIS KOMENTAR
Loading...

Senin,21 Mei 2018 - 09:35:01 WIB

Bos LG Group Tutup Usia

RIAUMANDIRI.CO, SEOUL - CEO LG Group, Koo Bon-moo, meninggal dunia di usia 73 tahun setelah berjuang melawan penyakit yang dideritanya selama satu tahun. Selama setahun, Koo telah menjalani berbagai operasi, tetapi seorang sumber enggan menyebutkan penyakit yang diderita oleh pebisnis tersebut.

Senin,21 Mei 2018 - 08:11:17 WIB

Gerakan Reformasi, Pemilu dan Pilkada

Memori gerakan mahasiswa 1998 mengingatkan kita akan perjuangan mahasiswa Indonesia menjatuhkan rezin Orde Baru dengan berhasil memaksa Soeharto berhenti dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia yang berkuasa selama 32 tahun, sejak keluarnya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) pada tanggal 11 Maret 1966 hingga 1998. Tepatnya 20 tahun yang lalu, pada hari Kamis tanggal 21 Mei 1998, ribuan masa menduduki gedung DPR/MPR meneriakkan yel-yel dan orasi yang meminta Soeharto turun. Pada hari yang sama, pagi sekitar pukul 09.00 WIB di Istana Merdeka, Soeharto menyatakan dirinya berhenti dari jabatannya sebagai presiden dan Bacharuddin Jusuf Habibie (BJ Habibie) wakil presiden mengantikannya sebagai presiden.