Sejumlah Kasus Molotov di Pekanbaru Belum Terungkap, Polda Beberkan Sebabnya

Kamis,09 November 2017 | 19:53:49 WIB
Sejumlah Kasus Molotov di Pekanbaru Belum Terungkap, Polda Beberkan Sebabnya
Ket Foto : Mobil milik pengurus Lembaga Adat Melayu Kota Pekanbaru dilempari molotov oleh OTK
RIAUMANDIRI.co, PEKANBARU -Kasus molotov yang terjadi di wilayah hukum Kota Pekanbaru hingga kini belum terungkap. Penyidik Polresta Pekanbaru berdalih masih menunggu hasil Laboratorium Forensik di Medan, Sumatera Utara, untuk memastikan barang bukti.
 
Dari informasi yang dihimpun, sepanjang tahun 2017 ini, setidaknya ada tiga kasus molotov yang terjadi. Yakni, rumah Pelaksana Harian Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kota Pekanbaru, Shanti Rahmayanti yang beralamat di Jalan Serayu Gang Meranti, pada akhir Agustus 2017.
 
Berikutnya, kediaman anggota DPRD Riau, Supriati di Jalan Dwikora Kelurahan Sukamaju, yang menjadi sasaran pelaku teror, Selasa (3/10) dini hari.
 
Sepuluh hari berselang, kejadian serupa kembali terjadi. Yang menjadi korbannya adalah Nurhasim. Mobil milik pengurus Lembaga Adat Melayu Kota Pekanbaru, Nurhasim, menjadi sasaran aksi teror dengan menggunakan bom molotov. Akibatnya, mobil Toyota Avanza milik pria 70 tahun yang terparkir di depan rumahnya di Jalan Utama Perumahan Kulim Indah, Kelurahan Rejosari, Kecamatan Tenayanraya, Kota Pekanbaru, hangus terbakar.
 
Dari tiga rangkaian kejadian tersebut, hingga kini belum ada yang berhasil diungkap pihak kepolisian, baik nama pelaku maupun motif yang digunakan pelaku. Proses penyidikan yang dilakukan masih berkutat dengan pengumpulan dan identifikasi barang bukti.
 
"Masih menunggu hasil Labfor di Medan untuk membuktikan apakah itu dibakar karena molotov atau bagaimananya," ungkap Kabid Humas Polda Riau, Kombes Pol Guntur Aryo Tejo, setelah menghubungi Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru, Kompol Bimo Ariyanto, menanyakan perkembangan penanganan perkara tersebut, Kamis (9/11).
 
Diterangkan Guntur, ada satu kejadian dimana korban melapor beberapa hari setelah peristiwa. "Lokasi kejadian sudah dibersihkan. Tentu barang buktinya sulit ditemukan," terang mantan Kapolres Pelalawan itu. "Seharusnya saat kejadian, korban langsung buat laporan. Lokasi akan segera distatusquokan dengan memasang police line. Tidak ada satupun yang boleh merubah dan menghilangkan barang bukti," sambungnya.
 
Selain itu, ada juga kejadian teror yang barang bukti berupa pecahan kaca yang tidak ditemukan di lokasi kejadian. "Bisa jadi disiram dengan minyak, terus dibakar. Ini lah yang perlu didalami melalui hasil Labfor. Mudah-mudahan minggu depan hasilnya diperoleh," imbuh Guntur.
 
Lebih lanjut Guntur berharap masyarakat bersabar dan memberikan waktu kepada Penyidik bekerja. Hingga kini, kata Guntur, Polda Riau belum membentuk tim khusus untuk membantu Polresta Pekanbaru. "Mereka (Polresta Pekanbaru,red) masih bekerja. Kapolda mempercayakan kepada mereka," pungkas Guntur.
 
Sebelumnya, Kapolda Riau Irjen Pol Nandang, mengakui upaya pengungkapan yang dilakukan jajarannya belum berhasil. Polisi gagal mengetahui apa motif dan siapa pihak yang bertanggungjawab. Ini pula yang kemudian membuat khawatir, karena jika terhadap pejabat dan wakil rakyat saja pelaku berani melakukan teror, keamanan bagi masyarakat biasa menjadi pertanyaan. "Kita sedang berupaya, namun belum membuahkan hasil," sesal Nandang beberapa waktu lalu.
 
Baca juga di Koran Haluan Riau edisi 10 November 2017
 
Reporter: Dodi Ferdian
Editor: Nandra F Piliang
Akses Riaumandiri.co Via Mobile m.riaumandiri.co
BERITA TERKAIT
TULIS KOMENTAR