Kapolda Riau Klarifikasi Pemberitaan 'Negara Boleh Tak Ada TNI' adalah Hoax

Senin,23 Oktober 2017 | 11:49:56 WIB
Kapolda Riau Klarifikasi Pemberitaan 'Negara Boleh Tak Ada TNI' adalah Hoax
Ket Foto : Irjen Pol Nandang dalam acara Silaturahmi Kapolda Riau bersama Pemimpin Redaksi dan Wartawan Mitra Polda Riau (dok. RMC)
RIAUMANDIRI.co, PEKANBARU - ‎Pemberitaan yang dimuat di salah satu media online pada 20 Oktober 2017, berjudul 'Kapolda Riau: Negara Boleh Tak Ada Tentara, Tapi Polisi Harus Ada', diyakini tidak benar atau Hoax. hal itu ditegaskan oleh Kapolda Riau, Irjen Pol Nandang.
 
Pernyataan itu dikutip media tersebut dalam acara Silaturahmi Kapolda Riau bersama Pemimpin Redaksi dan Wartawan Mitra Polda Riau yang digelar Rabu, 18 Oktober 2017 malam di salah satu restoran di Pekanbaru.
 
"Isi berita itu tidak seperti yang sebenarnya. Saya waktu itu menjelaskan peran penting Media dalam tugas TNI dan Polri. Harusnya di muat dari awal sambutan saya, jangan sepenggal-sepenggal," ungkap Kapolda Riau, Irjen Pol Nandang, mengklarifikasi berita tersebut, Minggu (22/10).
 
Awalnya, kata Nandang, Ia menjelaskan bahwa Polri dan TNI harus bersinergi dengan empat pilar, istilah yang dibuat. 
 
"Paling pokok, bagaimana bersinergi dengan empat Pilar. Polri, TNI, Pemda dan Pranata Sosial. Agar tujuan nasional berupa wawasan nusantara, ketahanan nasional, pembangunan, penegakan ham dan hukum, dapat tercapai. Keempat pilar ini berkontribusi dan bersinergi termasuk dengan dengan media," kata Nandang.
 
Lebih lanjut, diungkapkannya, ‎sinergi itu tujuanya termasuk untuk pengelolaan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat. Keberadaan Bhayangkara Pembina Kamtibmas‎ Polri, kata Nandang, perlu disiapkan dengan baik untuk tujuan itu.
 
"Saat acara dengan wartawan itu saya sampaikan bahwa pagi sebelum acara itu saya baru mengumpulkan ratusan Bhabinkamtibmas. Saya rasa perlu saya perlu sampaikan itu di depan wartawan," lanjut Nandang.
 
Kepada Bhabinkamtibmas, pagi itu, Nandang menyampaikan empat pilar tadi, dan hal itu diulangnya kembali saat di hadapan wartawan. 
 
Kemudian Nandang menyebutkan, ‎contohnya, untuk menertibkan arus lalu lintas, menjaga hubungan antar masyarakat, keberadaan Bhabinkamtibmas sangat diperlukan.
 
"Ketika saya sebut TNI itu, bukan dalam konteks untuk penting atau tidak penting, tapi dalam konteks menguatkan Bhabinkamtibmas. Karena tugasnya masing-masing beda. Justru saya menyampaikan kepada Bhabin bahwa TNI itu mitra paling dekat. Jadi tak seperti yang diberitakan itu," sebut Nandang.
 
Akibat informasi yang beredar ini, Nandang pun menyatakan memoho‎n maaf kepada masyarakat dan pihak-pihak yang membaca dan mendengar berita yang menurutnya tak benar itu.
 
"Saya hanya memberikan gambaran di negara-negara tertentu bukan di Republik ini. ‎Itu ilustrasi untuk sinergitas TNI-Polri, jangan di analogkan. Harusnya secara utuh dicermati sambutan saya. Bahkan, saya meminta media untuk mencerdaskan, demokratis dan tidak memprovokasi," imbuh mantan Kapolda Sulawesi Barat itu.
 
Di tempat yang sama, Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Guntur Aryo Tejo, menjelaskan, media yang bersangkutan tidak tercatat hadir dalam absensi wartawan yang hadir saat acara itu.
 
"Ada puluhan wartawan baik lokal dan nasional serta beberapa Pemred media hadir ketika itu. Tak satupun ada yang memberitakan itu karena Bapak Kapolda menyampaikan konteks yang normatif. Kalau ada pernyataan ‎yang tendensius, saya rasa wartawan yang hadir pada hari itu pasti akan memuat ketika itu juga," kata Guntur.
 
Setelah dipantau, lanjut Guntur, media itu malah memuat berita itu pada hari Jumat, dua hari kemudian. Kemudian, ternyata media itu mengutip dari sumber lain yang tidak memuat seperti judul itu.
 
"Bahkan, hasil monitoring kita sore tadi sekitar pukul 18.00 wib. Berita di media itu telah dihapus oleh media itu sendiri. Dan, sudah kita cek, media itu tidak terdaftar di dewan pers," jelas Guntur.
 
Guntur menambahkan, pihaknya sangat menyayangkan adanya aksi penggiat media yang memuat berita memprovokasi. Namun sejauh ini, pihaknya baru sebatas mengklarifikasi berita tersebut. 
 
"Upaya hukum belum, kita klarifikasi dulu agar masyarakat dan mitra kita dapat penjelasan yang sebenarnya. Hoax itu!," tutup Guntur. 
 
Untuk diketahui, judul berita yang dimuat media tersebut jadi perguncingan di media sosial. Dari screenshot media tersebut sebelum dihapus, berita itu telah dibaca sebanyak 60.812‎ kali.
 
Baca juga di Koran Haluan Riau edisi 23 Oktober 2017
 
Reporter: Dodi Ferdian
Editor: Nandra F Piliang
Akses Riaumandiri.co Via Mobile m.riaumandiri.co
BERITA TERKAIT
TULIS KOMENTAR