Mobil Petinggi LAM Pekanbaru Dilempari Bom Molotov, Begini Kronologinya

Jumat,13 Oktober 2017 | 13:33:01 WIB
Mobil Petinggi LAM Pekanbaru Dilempari Bom Molotov, Begini Kronologinya
Ket Foto : Kondisi mobil yang hangus terbakar di garasi rumah Nurhasyim.
RIAUMANDIRI.co, PEKANBARU - Kepolisian Resor Kota Pekanbaru menyelidiki satu unit mobil petinggi Lembaga Adat Melayu (LAM) Pekanbaru, Nurhasyim (70), yang diduga dibakar atau dilempari molotov diketahui pada Jumat (13/10/2017) pukul 05.30 WIB.
 
"Barang bukti satu unit mobil Avanza warna merah dan korek api satu kotak yang tertinggal di tempat kejadian perkara," kata Kepala Polresta Pekanbaru Kombes 
Pol Susanto melalui Kepala Sub Bagian Hubungan Masyarakat, Iptu Polius Hendriawan di Pekanbaru, Jumat.
 
Lokasi kebakaran di rumah korban Jalan Utama, Perumahan Kulim Indah, Kelurahan Rejosari, Kecamatan Tenayan Raya.
 
Korban mengaku pada Rabu (11/10/2017) pukul 11:30 WIB terakhir kali menggunakan mobil dan memarkirkannya di garasi depan rumah.               
 
Lalu pada subuh tadi korban diberitahu saksi tetangga korban Ica Rahmawati melihat ada api sudah membesar di kap mesin mobil.
 
Saksi itu juga melihat ada sepeda motor Honda Beat di depan rumah.
 
Seketika itu juga korban dan tetangga langsung melakukan pemadaman dengan alat seadanya dan menghubungi Dinas Pemadam Kebakaran.
 
Lalu Dinas Pemadam Kebakaran menurunkan satu unit mobil dan api dapat dipadamkan sekitar pukul 05:40 WIB.
 
Korban Nurhasyim, selain jadi pengurus di LAM Pekanbaru, juga merupakan pensiunan dosen Universitas Islam Riau.
 
Selain itu dia juga merupakan bupati pertama Kabupaten Rokan Hulu.
 
Nurhasyim ketika dihubungi melalui telepon seluler belum menjawab. Diketahui dia sedang dimintai keterangan oleh Satuan Reserse Kriminal Polresta Pekanbaru.
 
Kejadian teror seperti ini juga terjadi di Pekanbaru beberapa waktu lalu.
 
Pada saat itu yang jadi korban adalah anggota DPRD Riau, Supriati yang teras rumahnya dimolotov. (arc/bbs)
Akses Riaumandiri.co Via Mobile m.riaumandiri.co
BERITA TERKAIT
TULIS KOMENTAR