Supir CPO Resah Dengan Pungli di Tanjung Medan

Cetak Minggu,01 Oktober 2017 | 21:44:52 WIB
Supir CPO Resah Dengan Pungli di Tanjung Medan
Ket Foto : Praktik pungutan liar di sekitar jalur lintas Rohil- Pujud, tepatnya di Kepenghuluan Tanjung Medan, Kecamatan Tanjung Medan terhadap supir CPO
‎RIAUMANDIRI.co, Pujud - Semakin maraknya praktik pungutan liar di sekitar jalur lintas Rohil- Pujud, tepatnya di Kepenghuluan Tanjung Medan, Kecamatan Tanjung Medan, membuat para supir angkutan CPO merasa resah.
 
Dari informasi yang didapat, setiap mobil angkutan CPO dikenai pembayaran administrasi jalan sebanyak Rp 150 ribu per unit mobilnya. Dalam sehari angkutan CPO bisa mencapai 50 unit melewati jalur lintas tersebut, jika ditotal dalam sehari oknum pungli di titik tersebut bisa meraup untung sebanyak Rp 7,5 juta per harinya.
 
Dengan dalih akan memperbaiki kondisi badan jalan, praktik pungli tersebut pun sudah berlangsung cukup lama. Tentunya hal ini sangat merugikan sekali bagi pengendara angkutan CPO ini. Mereka berharap pemerintah Kepenghuluan maupun aparat Kepolisian bisa melakukan tindakan terkait pungli tersebut.
 
"Memang di dalam pemberitahunnya, dana yang dikutip dari setiap pengendara ini akan diperuntukkan bagi perbaikan jalan, tapi kami lihat sejauh ini kondisi jalan masih saja seperti ini. Harapan kami cuma satu, pihak berwajib bisa melakukan tindakan terkait dengan ini," terang Hardy, salah satu sopir angkutan CPO, Minggu (1/10).
 
Kondisi jalan di sepanjang Tanjung Medan menuju ke Pujud sampai hari ini, masih tampak hancur. Menurut perkiraan Hardy, dengan jumlah uang yang dipungut dari setiap pengendara angkutan CPO, dalam sebulan sudah bisa melakukan perbaikan secara perlahan di badan jalan tersebut.
 
Baca juga di Koran Haluan Riau edisi 02 Oktober 2017
 
Reporter: M Syawal
Editor: Nandra F Piliang
Akses Riaumandiri.co Via Mobile m.riaumandiri.co
BERITA TERKAIT
Loading...
TULIS KOMENTAR
Loading...

Senin,21 Mei 2018 - 08:11:17 WIB

Gerakan Reformasi, Pemilu dan Pilkada

Memori gerakan mahasiswa 1998 mengingatkan kita akan perjuangan mahasiswa Indonesia menjatuhkan rezin Orde Baru dengan berhasil memaksa Soeharto berhenti dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia yang berkuasa selama 32 tahun, sejak keluarnya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) pada tanggal 11 Maret 1966 hingga 1998. Tepatnya 20 tahun yang lalu, pada hari Kamis tanggal 21 Mei 1998, ribuan masa menduduki gedung DPR/MPR meneriakkan yel-yel dan orasi yang meminta Soeharto turun. Pada hari yang sama, pagi sekitar pukul 09.00 WIB di Istana Merdeka, Soeharto menyatakan dirinya berhenti dari jabatannya sebagai presiden dan Bacharuddin Jusuf Habibie (BJ Habibie) wakil presiden mengantikannya sebagai presiden.