Jokowi dan ICMI Bahas Gejolak Antiplural dan Paham Irasional

Cetak Selasa,24 Januari 2017 | 09:07:01 WIB
Jokowi dan ICMI Bahas Gejolak Antiplural dan Paham Irasional
Ket Foto : Pertemuan ICMI dan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka membahas beberapa hal.
JAKARTA (riaumandiri.co)-Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta. Ada beberapa hal yang dibahas dalam pertemuan itu. Di antaranya terkait munculnya paham antikebhinnekaan hingga irasionalitas yang mulai masuk kampus.
 
Menurut Ketua Umum ICMI, Jimly Asshiddiqie, Presiden Jokowi antusias dengan adanya pertemuan itu. Semua ide yang disampaikan disambut dengan baik.
 
"Semua idenya diterima dan akan ditindaklanjuti," kata Jimly di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (23/1).
Beberapa hal yang disampaikan ICMI di antaranya mengenai Silaturahmi Nasional ICMI yang diselenggarakan pada 26 Desember lalu. Dalam Silatnas tersebut, dibicarakan mengenai bagaimana menghidupkan kegiatan ilmiah di kampus Islam.
 
"Kehadiran pengurus ICMI untuk kembali menghidupkan kegiatan-kegiatan ilmiah di kampus-kampus Islam dengan perspektif ilmiah, ilmu dengan perspektif moral. Nah ini gerakan sekaligus menangkal mulai muncul dan masuknya irasionalitas dalam dunia kampus. Nah, kita laporin mengenai itu," kata Jimly.
 
Dalam pertemuan itu, pihaknya juga menyampaikan gejala yang sedang terjadi akhir-akhir ini. "Kami sampaikan kebhinnekaan adalah kenyataan hidup bagi bangsa kita, sehingga tidak mungkin ada kekurangan apa pun yang bisa menghilangkan ciri ke-Indonesia-an kita, pluralisme kita. Tapi di satu sisi, Indonesia, namun di saat yang sama sulit juga bagi kita berharap tidak ada masalah di dalam pengelolaan kita terhadap kebhinnekaan kita," jelas Jimly.
 
"Nah, yang penting suasana sekarang ini kita kelola dengan hikmat, apalagi ini suasananya menjelang pilkada. Mudah-mudahan nanti setelah pilkada selesai, jangan sampai gejolak-gejolak anti pluralisasi itu terus berlanjut. Nah ini harus dikelola dengan tepat, jangan sampai masing-masing kelompok ini makin diperketat, sehingga menyulitkan upaya ke depan membangun kerukunan, pembauran, dan kerukunan itu menjadi kunci yang dari tadi kita bicarakan dengan Presiden," tambah Jimly. (dtc/sis)
Akses Riaumandiri.co Via Mobile m.riaumandiri.co
BERITA TERKAIT
Loading...
TULIS KOMENTAR
Loading...