Tidak Kunjung Hamil? Suami Juga Perlu Pemeriksaan Kesuburan

Rabu,21 Desember 2016 | 11:53:51 WIB
Tidak Kunjung Hamil? Suami Juga Perlu Pemeriksaan Kesuburan
Ket Foto : Tidak Kunjung Hamil? Suami Juga Perlu Pemeriksaan Kesuburan (Foto: pedulisehat)

JAKARTA (Riaumandiri.co) - Ada sebagian pasangan yang mesti menunggu sampai bertahun-tahun hingga datangnya kehamilan pada sang istri. Namun, tidak sedikit pula pasangan yang sama sekali tidak mendapatkan buah hati dalam rumah tangganya karena salah satu dari mereka mengalami kemandulan, infertilitas menjadi salah satu pemicunya.

Diungkapkan Dr.dr. Budi Wiweko, SpOG(K) dari Klinik SMART IVF, kejadian infertilitas atau ketidaksuburan dialami sekira 15 persen pasanga pada usia suburnya. Pasangan dikatakan punya problematika ini saat mereka tidak mendapatkan kabar kehamilan pada sang istri dalam masa 12 bulan berturut-turut. Padahal, mereka sudah berusaha dengan melakukan hubungan intim tanpa memakai alat kontrasepsi.

“Jadi kalau dari 100 pasangan, 15 orang itu memiliki risiko untuk sulit mendapatkan keturunan atau gangguan kesuburan,” kata dokter kandungan yang akrab dipanggil dr Iko, seperti dikutip laman Detik Health.

Meski demikian sebaiknya jangan lantas menyalahkan istri. Justru masalah ketidaksuburan sekira 35 persen penyebabnya dari sisi laki-laki atau suami. Dengan demikian dr. Iko menyarankan agar suami sebaiknya melakukan pemeriksaan kesuburan lebih dahulu ketimbang istri.

“Saat ini paradigmanya berubah, nomor satu yang diperiksa harus laki-lakinya, sperma harus diperiksa, karena memiliki kontribusi 35 persen terhadap setiap gangguan kesuburan. Yang kedua baru perempuan,” tuturnya.

Sebaliknya, wanita yang mengalami infertilitas umumnya disebabkan gangguan ovulasi. Gangguan ini menyebabkan terjadinya masalah pada kematangan sel telur. Persentase kejadiannya mencapai sekira 30-40 persen. Gangguan tersebut muncul dengan berbagai caraseperti sumbatan di indung telur hingga terdapat kista.

“Bisa karena faktor sumbatan saluran telur, yakni 30 persen, atau kista cokelat (endrometriosis). Sisanya ada 5-10 persen unexplained. Tidak jelas penyebabnya, meski perempuan normal, laki-laki normal, tapi tetap tidak punya anak,” papar dr Iko. (wkc/vie)

Akses Riaumandiri.co Via Mobile m.riaumandiri.co
BERITA TERKAIT
TULIS KOMENTAR

Senin,20 Februari 2017 - 07:39:18 WIB

Konsep Bantuan Hukum

(riaumandiri.co)-DI dalam negara demokrasi, penegakan hukum menjadi salah satu indikator untuk menilai demokrastis atau tidaknya suatu negara. Penegakan hukum dapat dilihat dari 3 (tiga) aspek; yaitu dari sisi aspek regulasi, aspek aparat penegak hukum, dan aspek budaya hukum. Indonesia sebagai negara hukum (rechstaat), negara wajib memberi jaminan kesetaraan bagi setiap warga negaranya di hadapan hukum (equality before the law). Bahkan, sila kedua, dan sila kelima Pancasila sebagai grundnorm (norma dasar), telah menjamin persamaan hak asasi dan keadilan itu.