Itali Daerah Rawan Gempa di Eropa

Itali Daerah Rawan Gempa di Eropa

Gempa berkekuatan 6.4 pada Skala Richter mengguncang bagian tengah Italia, pusat gempa berada pada jarak 100 km dari Roma ibukota Italia dengan kedalaman 10 km termasuk gempa dangkal dengan intensitas kekuatan gempa kuat menuju kekuatan gempa sangat kuat. Gempa terjadi pada pukul 03.36 pagi waktu setempat dengan berpusat pada jarak 76 km disebelah Tenggara kota Perugia (sumber USGS).


Hingga ditulis artikel ini, jumlah korban telah mencapai ratusan jiwa dan dipastikan akan bertambah banyak karena sejumlah korban tertimbun runtuhan bangunan. Guncangan gempa sangat kuat dan terasa hingga ke Ibukota Italia, karena pusat gempa berada dalam tumbukan Lempeng Eurasia dengan Lempeng India dan gerak menekan Lempeng Afrika ke arah Lempeng Eurasia. Posisi Italia persis berada tepat di tengah Benua Eropa, diapit daerah Balkan dan Daratan Eropa dalam hal ini masuk wilayah Spanyol yang juga rawan gempa bumi.


Italia termasuk negara maju, namun dalam hal mitigasi masih jauh dari kemampuan menciptakan teknologi yang mumpuni terhadap bencana gempa, kota-kota di Italia seperti juga di Indonesia berada diatas patahan dan zona subduksi gempa maut.



Rentang Gempa Berdasarkan posisinya diatas Lempeng Eurasia, Pulau di Italia termasuk daerah kerentanan gempa yang sangat tinggi dan ini merupakan daerah di Benua Eropa paling sering mengalami mu­sibah bencana gempa, tanah di Italia mudah mengalami perobekan dan penghancuran blokblok batuan yang menyusun bentangalamnya di bandingkan Kepulauan Inggris, sekitar Balkan atau Laut Mati dan sebagian wilayah Spanyol, jika guncangan gempa datang de­ngan siklus dua hingga lima tahunan mengalami guncangan diatas 6.0 Skala Rich­ter (SR). Guncangan ini kadang juga mengganggu puncak disekitar Pegunungan Alpen karena telah banyak ditemukan sejumlah patahanpatahan yang membujur ke Laut Adriatik yang membelah kawasan Balkan dan Semenanjung Italia.


Tatanan geologi yang terbentuk penyebab utama mengapa percepatan gelombang pada batuan dasar maksimun di Italia tidak mencapai 150 tahun sekali. Sebab lain, tersusun oleh 90 persen batuan vulkanik berumur Kuarter, ka­rena berada dalam Sirkum Medi­te­rania yang terbentuk dalam usia Kuarter sehingga siklus energi kegempaan di Italia tidak pernah mencapai 50 tahun sekali melepaskan energi kegempaan dengan intensitas magnitude maksimun 7.0 SR.


Dan disebelah Selatan Italia itu terdapat palung yang sangat dalam mencapai 2500 km, penekanan efek lempeng ke sesarsesar daratan Tengah Italia hingga ke Utara daratan Eropa dapat memberikan stimulusasi bagi Spanyol dan Portugal, termasuk juga Swiss dan Austria.


Kawasan Italia dan Balkan maupun Spanyol serta Portugal secara tektonik merupakan kawasan yang memang sangat rumit dan kompleks karena kaya akan lipatan-lipatan batuan yang berumur masih muda terbentuk disekitar periode kuarter berusia 70 juta tahun yang lalu dan patahanpatahan aktif mengelilingi tiga zona laut yang mengepung tata ruang pulaupulau di Italia dari Selatan ke Utara hingga menusuk tajam ke daratan Swiss ke Pegunungan Alpen lalu membentang ke arah barat ke Himalaya terus ke Burma, lalu ke Indonesia dan me­lingkar ke Utara menuju ke Pasifik dan sekitar Philipina membentuk Palung Laut dalam di Mindanao.


Semua merupakan produk benturan lempeng kerak bumi sub kontinen India terhadap Lempeng Eurasia yang terkunci di utara Italia di daratan Swiss sekitar sepanjang pegunungan Alpen. Dan patahan Adriantik dapat menghasilkan gempa bumi yang besar, penelitian belum cukup mengurangi bencana jika standar penerapan building code terha­dap tata ruang infrastruktur akan menambah kekuatan jumlah korban yang terjadi, pusat gempa yang terjadi adalah 10 km, dan daerah ini telah memberikan efek pukulan bagi groundshaking terhadap bangunan sehingga setiap gempa yang terjadi di Italia sering menimbulkan korban di atas 100 jiwa dan sudah berlangsung di era modern ini, Italia mengalami gempa kuat sejak 2005, 2009, 2012 dan 2016


Era 2005 Sebuah patahan yang aktif membentang sepanjang Pegunungan Apenina di tengah Italia merupakan kawasan daerah yang hiperlabil, penelitianpenelitian menyebutkan hal itu karena tekanan beban di atasnya dan selain kondisi batuan yang terbentuk masih labil dalam proses geologi ruang dan waktu.


Sumber La Republica serta Jawatan Geologi dan Sipil Italia maupun data USGS menyebutkan dalam sejarah panjang gempa Italia, sering menimbulkan kerusakan dalam intensitas tinggi, terlihat sering kali jika gempa terjadi maka akan ada jalan terbelah panjang dan terputus, kemiringan bangunan hingga rata ke tanah karena kandungan tanah seperti bubur, yang mudah terurai. Terlihat pada sejarah gempa tahun 2009 lalu di kawasan Accumoli yang berdekatan dengan kawasan gempa 2016 dengan kekuatan mencapai 6.3 SR yang menewaskan korban mencapai 390 orang dengan kerugian diatas 100 milyar rupiah.


Guncangan gempa di Italia sering menjangkau radius seismik 100 hingga 200 km dari pusat gempa dan umumnya gempa dalam tujuh tahun terakhir disebabkan adanya perubahan gerak lempeng di Laut Adriatik yang membangun daratan di dalam laut di sekitar pantai Kroasia. Terlihat dengan terjadinya long­soran di Pegunungan Alpen akibat adanya efek penekanan disepanjang pulau di Semenanjung Balkan yang berhenti tumbuh sekitar 30 tahun yang lalu dengan pembentukan rantai pegunungan yang membentang dibagian atas pantai barat Balkan dan mendesak ke arah timur ke tengah di daratan Italia melalui jalur laut Adriatik.


Patahan inilah yang menekan kejadian gempa dalam kurun 7 tahun ini pada tepi lempeng tektonik Eurasia yang berada di ujung selatan daratan Pulau Italia dan menumpang diatas lempeng kecil yang terbentuk di Laut Adria Selatan, lapisan yang terbentuk itu mendesak dan umumnya merupakan batuan apung atau kar­bonat yang memang mudah retas sehingga lapisan ini tertutup pada kedalaman tidak lebih 10 km sehingga menimbulkan efek likuafaksi pada bangunan dan efek guncangan berganda, pada umumnya banyak terjadi di daerah yang terbentuk oleh erupsi batuan vulkanik.


Literatur penelitian terbaru menyebutkan bahwa sejak tahun 2005 ada beberapa gejala yang mengejutkan karena terjadinya pergeseran potongan lempeng di kawasan Laut Adria di selatan yang menempatkan setiap potongan lempeng bergerak secara bersama dimana bagian patahan di selatan Italia yang mirip sepatut bot bergerak ke arah pantai Kroasia di barat Italia yang dalam hal ini masuk kawasan semenanjung Balkan itu melaju sekitar 0.16 inci atau 0.4 centimeter per tahun, sementara di dasar Laut Adriatik Tengah meluncur lempeng di bawah Kroasia dengan luas 200 km merupakan pecahan lempeng timur sepanjang dasar laut Kroasia bergerak ke Selatan Kroasia, lalu berada di atas Lempeng Adria Selatan Italia yang sudah terbentuk di wilayah selatan Italia untuk bergerak bersama ke pantai Kroasia ke arah selatan. Kedua lempeng Adria Selatan Italia Kroasia itu yang suatu saat dalam ratusan waktu geologi akan membawa Italia dan Kroasia kontak langsung dengan menutup Laut Adriatik sekitar 50 juta tahun ke depan.


Rawan di Dunia Italia adalah negara rawan gempa di Eropa, posisi Italia seperti kepulauan Taiwan, Jepang dan juga sebagian pulau dipantai Barat Sumatera (Indonesia). Sebagian Pulau di Italia merupakan daerah dalam pembentukan gunung api atau Pulau vulkanik, rentang mengalami pembenturan antar Lempeng Eurasia dengan Lempeng India maupun Lempeng Eurasia dengan Lempeng Afrika.


Pergerakan lempeng itu telah mem­buk­tikan posisi tatanan geologi Italia sangat mudah di getarkan oleh pembentukan gunungapi. Italia merupakan zona rangkaian pegunungan aktif seperti Nusantara yang jaringannya mulai dari Kawasan Sirkum Mediterania hingga ke Pasifik.
Italia termasuk kedalam 15 negara yang sering mengalami gempa skala kuat diatas kekuatan 6.0 SR sepanjang siklus lima tahunan yang merusak dengan jum­lah korban dapat mencapai ratusan jiwa, dimulai dari Indonesia, Jepang, Tiongkok, Nepal, Iran, Chili, Haiti, Turki, Italia, AS, India, Selandia Baru, Taiwan, Equador dan Burma.


Perlu perisai tata ruang mitigasi gempa yang tangguh dalam menghadapi kerentanan bencana gempa bumi dan perubahan iklim global.***
Penulis adalah Geolog, ASN, Bertugas Pemetaan di Wilayah Tabagsel.