Kembali ke Habitat

Rabu,13 Juli 2016 | 10:15:20 WIB
Kembali ke Habitat
Ket Foto :

Kata habitat berarti lingkungan dan kebiasaan juga diartikan tempat tinggal semula. Kembali kehabitat dalam tulisan ini maksudnya kembali ke kebiasaan (habitual).
Bulan Ramadan dijuluki para pakar dan para pengamat sebagai “bulan tampil saleh”.  Orang siap memasukinya dengan berbagai cara, terutama dalam segi penampilan. Orang ingin menunjukkan bahwa dia juga seorang muslim yang baik, mulai dari pakaian muslim dan muslimah.
Selama ini tidak menutup aurat, sekarang berjilbab seperti artis. Selama ini jarang salat, selama Ramadan rajin ke masjid. Selama ini sombong dan angkuh, mulai ramah. Selama ini pelit, sekarang mau bersedekah, mau menyumbang anak yatim dan tolong menolong. Pokoknya selama bulan Ramadan, sepertinya ajaran Islam teramalkan dengan baik.
Damai betul dunia ini rasanya, yang ada manusia-manusia berakhlak dan bertuhan. Tidak ada anarkis, tidak ada saling tuding, saling fitnah, saling menjelekkan, apalagi saling bunuh. Sekali lagi, damai, sejuk dan toleran kehidupan dunia ini betul-betul ideal.
Bagaimana dengan kehadiran Syawal? Mulai bergeser, tadinya berjilbab, sekarang berjilboob, malah kembali setengah telanjang seperti artis-artis.
Tadinya salat  ke masjid, sekarang mulai putus hubungan. Tadinya ramah, sopan, sekarang mulai sombong, cuek dan merasa berkuasa. Tadinya ada rasa kepedulian terhadap sesama, terutama kaum dhuafa, sekarang menjauh. Tadinya ada rasa malu, rasa risih, sekarang mulai hilang. Tadinya ada rasa takut berbuat kemungkaran, berbuat zalim, sekarang mulai menyusun strategi kembali untuk korupsi dan menindas.
Tadinya cocok antara ucapan dan perbuatan, sekarang pecah kongsi dan seterusnya. Begitulah keadaan yang kita lihat, yang terasa, dimana kehidupan ini rupanya penuh kepalsuan, penuh rekayasa, terutama oleh para pemimpin dan politisi semua tingkat dan jajarannya. Pertanyaan lagi, sampai kapan kondisi ini kita nikmati? Jawabannya tentu tergantung kepada kita semua, tanpa kecuali, terutama para pemimpin dan politisi. Yaitu ada kesadaran untuk berubah dan sekaligus siap berubah.
Bagaimana orang yang siap berubah? Selaku seorang muslim apalagi mukmin dia harus sadar bahwa ajaran Islam itu untuk diamalkan dalam kehidupan keseharian, tidak hanya sekedar diketahui atau dihafal-hafal.
Kesadaran akan timbul apabila kita memahami dan mengerti terhadap ajaran Islam tersebut, yang selanjutnya akan timbul niat berbuat baik dan jauh dari segala kemungkaran. Memang berat untuk sadar, namun kita harus coba terus, berusaha terus dan ingat terus bahwa saya adalah seorang muslim yang ingin menjadi mukmin sekaligus muttaqin.
Jika kita tidak siap berubah, barangkali perlu direnungkan puisi singkat berikut, ingatlah wahai sahabat, bahwa dunia ada karena perubahan.
Kita pun ada karena perubahan. Jika kita tidak berubah, maka perubahanlah yang akan merubah kita, jika itu pun tidak merubah diri kita, berarti hidup telah kita ubah menjadi kematian.
Mari kita berusaha terus untuk menjadi insan Robbani, yaitu insan yang berakhlak mulia, bertauhid yang mantap dan selalu ingat Allah sepanjang hayat.
Tidak hanya sekedar insan Ramadhani, yaitu berislam hanya selama Ramadhan. Kita harus kembali ke habitat kita yaitu selaku seorang muslim yang baik. Insya Allah. ***
Pengamat sosial dan keagamaan

Akses Riaumandiri.co Via Mobile m.riaumandiri.co
BERITA TERKAIT
TULIS KOMENTAR