Derita Masyarakat Korban Sinabung

emerintah, Jangan Lupakan Kami”

emerintah,  Jangan  Lupakan Kami”

KABANJAHE (riaumandiri.co)-Penderitaan yang dialami masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, masih berlanjut.

 Setelah erupsi besar yang terjadi Jumat (26/2) lalu, hingga saat ini mereka masih berada di tenda pengungsian.

Erupsi yang terjadi di Gunung Sinabung, memang terhitung lama, mencapai enam tahun. Hingga sejauh ini, aktivitas gunung itu tetap tinggi.

Pemerintah
Bahkan pada Minggu (28/2) kemarin, aktivitas vulkanis gunung itu kembai meningkat drastis. Setidaknya, terpantau erupsi sebanyak 13 kali. Namun erupsi kali ini tidak sebesar ketika Jumat akhir pekan kemarin. Sejauh ini, lebih dari sembilan ribu jiwa terpaksa mengungsi.

Warga yang kini mengungsi, berharap pemerintah pusat, daerah dan kabupaten, tetap memberikan perhatian kepada warga yang menjadi korban Gunung Sinabung.

"Bencana yang berlangsung enam tahun ini diharapkan tidak membuat pemerintah bosan menangani pengungsi," ujar seorang pengungsi, Elisa, Minggu (28/2).

Dikatakan, bencana akibat erupsi gunung merapi itu bukan keinginan masyarakat sehingga harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. "Oleh karena itu, kami pengungsi di sini mengharapkan, pemerintah serius untuk membantu makanan, minuman, ikan maupun logistik lain buat masyarakat pengungsi," harapnya.

Harapan senada juga dilontarkan pengungsi lainnya, Simon Ginting. Menurutnya, warga pengungsi saat ini memang kembali membutuhkan bantuan khususnya logistik dan makanan. Kondisi yang terjadi saat ini, pengungsi masih kekurangan bahan logistik, pascaerupsi Jumat kemarin.

"Perhatian pemerintah sangat diharapkan supaya tidak sampai terjadi ancaman kelaparan, utamanya terhadap anak-anak," imbuhnya.

Sebab, anak-anak yang paling rentan diserang penyakit akibat menghirup abu vulkanik. Selain itu, lokasi pengungsian sangat dingin pada malam hari.

Asap Putih
Sementara itu, Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Sinabung, Armen Putra, mengatakan, sepanjang Minggu kemarin, penampakan Gunung Sinabung jelas. Terlihat asap putih tipis  dengan ketinggian 1.500 meter.
“Aktivitas tinggi ditandai dengan guguran dan erupsi,” ujarnya.

Selain ancaman erupsi, juga terdapat ancaman lain berupa banjir lahar dingin bila musim penghujan. Ancaman banjir lahan dingin sudah terjadi sejak setahun lalu. “Kalau saat ini cuaca relatif cerah. Jadi tidak ada potensi lahar dingin,” ujarnya lagi.

Pihaknya telah merekomendasikan 10 desa untuk direlokasi ke tempat yang lebih aman. Dari 10 desa, baru tiga desa yang direlokasi jauh dari Gunung Sinabung. Desa yang direlokasi adalah yang memiliki jarak 3-5 kilometer dari puncak gunung. Sementara untuk jarak aman adalah enam kilometer.

Untuk memantau aktivitas Gunung Sinabung, diterjunkan tim dari Bandung. Pemantauan dilakukan di pos pengamatan dan berkeliling. “Ada petugas kita dari TNI/Polri dan relawan yang selalu stand by,” tuturnya. (bbs, kom, viv, rri, sis)