Asap Mulai Rambah Sebagian Pulau Jawa

Publik Sangsi Pemerintah Tuntaskan Asap

Publik Sangsi Pemerintah Tuntaskan Asap

JAKARTA (HR)-Masih berlarut-larutnya penuntasan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Tanah Air saat ini, membuat publik merasa sangsi dengan sikap pemerintah.
Akibat masih berlarut-larutnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan, kabut asap yang menyebar juga semakin meluas.

Publik
 Bahkan saat ini, asap sudah mulai merambah sebagian daerah di Pulau Jawa, termasuk Ibukota Jakarta.
Terkait keyakinan masyarakat terhadap pemberantasan asap tersebut, hasil survei yang dilakukan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan, hanya 48 persen publik yang mengaku puas dengan komitmen pemerintah dalam menyelesaikan malapetaka kabut asap ini. Sedangkan sebanyak 49,9 persen lainnya, merasa tak yakin pemerintah bakal menuntaskan masalah ini.

"Untuk urusan asap ini, publik memperlihatkan sikap. Meski hanya berbeda tipis, tapi hanya 48 persen yang percaya komitmen pemerintah untuk asap ini," kata peneliti CSIS Arya Fernandes, dalam jumpa pers Setahun Pasca Pilpres 2014 di Hotel Century Park, Senayan, Minggu (25/10).

Menurut peneliti senior CSIS, J Kristiadi, masalah pembakaran hutan dan lahan sudah terjadi sejak tahun 1960-an. Hal ini karena adanya kepentingan politik calon kepala daerah yang menjadikan jual beli lahan di daerah menjadi lazim.

"Karena itu, pemerintah pusat harus memperjelas politik negara soal pelestarian lingkungan hidup. Pemerintah harus memberi sanksi tegas pada kepala daerah yang tidak mengikuti aturan," ujarnya.

Survei ini dilakukan secara acak pada 1.183 orang secara proporsional di 34 provinsi. Penarikan sample secara multi-stage random sampling dengan margin error sekitar 2,85 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Survei ini dilakukan selama 14 hingga 21 Oktober 2015 melalui wawancara tatap muka.


Mulai Rambah Jawa

Seiring dengan masih berlarut-larutnya Karhutla di Sumatera dan Jawa, sebaran asap juga semakin meluas. Bahkan asap sudah sampai merambah sebagian daerah di Pulau Jawa. Termasuk Ibukota Jakarta.

“Sebagian wilayah Jakarta pada hari ini tertutup asap tipis sebagai imbas kabut asap di Sumatera dan Kalimantan,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, Minggu kemarin.

Selain Jakarta, asap tipis juga menutup sebagian wilayah di Banten, Jawa Barat juga sebagian Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara. Dikatakan, hal itu diketahui berdasarkan pantauan satelit Himawari pada Minggu sore kemarin. Sehari sebelumnya, kondisi serupa juga telah terpantau. Ketika itu, satelit Himawari mendeteksi adanya asap tipis yang menutup Laut Jawa dan sebagian Jakarta.

"Kondisi ini sebenarnya sudah berlangsung sejak Jumat (23/10) dan terus berlangsung hingga sekarang," ujarnya lagi.


Sutopo menyebut partikel halus dari asap tipis ini melayang di atmosfer pada ketinggian sekitar 1.000 sampai 3.000 meter. Pada pagi hari asap kelihatan lebih tebal karena bercampur dengan kabut atau uap air.

"Masyarakat tidak ada yang perlu khawatir dengan adanya sebaran asap tipis dari kebakaran hutan dan lahan tersebut. Sifatnya temporer, yang mudah berubah setiap saat tergantung pada arah dan kecepatan angin," ucapnya.

Menurutnya kualitas udara di Jakarta saat ini masih normal hingga sedang. "Justru asap kendaraan bermotor yang lebih berbahaya bagi kesehatan," katanya.

Sebelumnya, Kepala Sub Bidang Informasi Meteorologi Publik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Hari Tirto mengatakan, apa yang terjadi di Jakarta disebut haze. "Bahasa metereologinya haze atau cuaca kabur," ujar Hari.

Apakah terkait polusi? "Tidak mengarah ke situ," jawabnya.

Cuaca haze yakni kekaburan udara yang disebabkan oleh partikel-partikel kering yang sangat kecil dan melayang-layang di udara sehingga menyebabkan jarak pandang (visibility) berkurang. Sementara itu, suhu udara tidak begitu lembab karena kelembabannya di bawah 90 persen.

Namun kala itu Hari menyebut, cuaca seperti itu normal dan tak terkait fenomena El Nino dan asap akibat kebakaran lahan."Sejauh ini belum berkaitan dengan asap, bisa saja partikel debu yang lain," ujarnya.


Siapkan Fasilitas Evakuasi
Sementara itu, terkait rencana pemerinta pusat mengevakuasi masyarakat di enam provinsi yang dilanda kabut asap parah, terus ditindaklanjuti. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah memerintahkan kepada seluruh kepala Unit Pelaksana Tugas (UPT) pelabuhan, untuk menyiapkan segala fasilitas. Hal itu guna mempersiapkan pelabuhan sebagai jalur evakuasi korban bencana asap di beberapa daerah.

Perintah tersebut dikeluarkan Dirjen Perhubungan Laut kepada para kepala UPT di Lingkungan Ditjen Perhubungan laut melalui surat kawat. Di dalamnya disebutkan, para Kepala UPT diminta segera berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat untuk meminta data penumpang dan barang bawaannya yang akan dievakuasi melalui pelabuhan;

Mereka juga diminta mengkoordinasikan para pemilik kapal untuk dapat membantu evakuasi korban asap serta menyiapkan terminal penumpang, gudang, lapangan penumpang dan kantor pelabuhan untuk dapat digunakan sebagai tempat tinggal sementara sebelum evakuasi. Selain itu, para kepala UPL pelabuhan juga diminta menyiapkan fasilitas dermaga untuk dapat disandari kapal yang akan melakukan evakuasi dengan tetap mengacu pada aspek keselamatan dan keamanan kepelabuhanan.

Namun dari Banjarmasin, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyatakan Presiden Jokowi telah memerintahkannya untuk tak mengevakuasi korban bencana kabut asap ke luar kota. Maka evakuasi dikonsentrasikan di wilayah bencana masing-masing.

"Sesuai arahan Presiden tidak ada evakuasi korban kabut asap ke luar kota," ujarnya.

Khusus untuk konteks Kalimantan Tengah, Kemensos telah menyiapkan tujuh titik lokasi penanganan korban kabut asap. Penanganan yang menjadi prioritas Jokowi meliputi penanganan kepada bayi, anak-anak, serta para lansia.

"Kelompok rentan bisa ditempakan di kantor bupati atau kantor lainnya yang bisa dipakai khusus untuk bayi dan anak, serta lansia yang diberi penutup untuk mencegah asap masuk," ujarnya.

Sebelumnya, pemerintah telah mengeluarkan perintah operasi kepada TNI AL untuk mengevakuasi korban bencana kabut asap. Menyikapi hal itu, Kadispenal Laksma M Zainudin mengatakan, pihaknya telah menyiapkan dua kapal. Yakni KRI Banda Aceh dari Kolinlamil Jakarta, dan KRI Teluk Jakarta dari Koarmatim Surabaya. (bbs, rio, dtc, sin)