Ombak Musim Utara Rusak Turap dan Pompong Warga di Dua Desa

Cetak Senin,15 Januari 2018 | 00:17:14 WIB
Ombak Musim Utara Rusak Turap dan Pompong Warga di Dua Desa
Ket Foto : Kondisi turap di Desa Mekong yang ambruk akibat diterjang gelombang musim utara (Foto GoRiau.com)
RIAUMANDIRI.CO,  SELATPANJANG - Memasuki musim utara, ombak tinggi disertai angin kencang menghantam Desa Alai dan Mekong, Kecamatan Tebingtinggi Barat di Kepulauan Meranti. Akibatnya, banyak pompong warga rusak parah dan turap penahan ombak ambruk sepanjang 50 meter, Minggu (14/1/2018).
 
"Turap yang sudah roboh hampir 50 meter, dan gelombang tadi pagi kata masyarakat di sini sudah mencapai 4 meter. Sangat perlu hati-hati di sini," kata Serka Junaidi, Babinsa Desa Alai.
 
Musim utara ditandai dengan angin bertiup kencang. Di saat bersamaan, ketika air laut pasang akan tercipta ombak mematikan yang senantiasa menerjang tebing-tebing di pinggiran laut. Bahkan, turap beton pun tumbang dihantam ombak.
 
Desa Mekong terletak tepat di depan Selat Melaka. Sehingga ketika angin utara dan gelombang terjadi, sama sekali tak ada penghalang. Warga pun hanya bisa pasrah.
 
Akibat gelombang yang terjadi sejak beberapa hari belakangan, Turap penahan ombak yang dibangun sejak lama sebagian telah ambruk. Tebing-tebing pun runtuh dengan seketika saat diterjang gelombang pasang.
 
Tak hanya itu, beberapa pompong dan sampan warga pun rusak parah. Tali yang digunakan untuk mengikat pompong putus diterjang ombak. Kayu-kayu yang dijadikan pancang pun banyak yang tercabut dan patah.
 
"Kalau angin kencang bisa terjadi saat air laut pasang dan surut. Kalau angin kencang saat pasang, ya disertai dengan gelombang," penagkuan warga Desa Mekong.
 
"Tak bisa berbuat banyak, kondisi seperti ini terjadi setiap tahunya," tambah warga.
 
Sempat juga warga pengangkut tual sagu terjebak dalam gelombang dan angin kencang. Akibatnya, pompong terhempas ke tepi dan tenggelam serta tual sagu putus lalu berserakan di laut.
 
Untuk menyelamatkan pompong, warga memindahkannya ke dalam sungai yang jaraknya agak jauh dari desa. Percikan air laut yang menghantam tebing bisa membasahi jalan (tanah daratan) hingga lebih 15 meter dari bibir laut.
 
"Kami selaku masyarakat Desa Alai dan Desa Mekong mengharapkan sekali Pemkab mencari solusi akan hal ini. Jangan sampai dua Desa ini hanya tinggal namanya saja, dan bagaimana nasib warga di perairan di sini," ujar Junaidi salah satu warga Desa Alai.
 
Reporter: Azwin Naem
Editor: Nandra F Piliang
 
Akses Riaumandiri.co Via Mobile m.riaumandiri.co
BERITA TERKAIT
Loading...
TULIS KOMENTAR
Loading...